Selasa, 20 Maret 2012

Pembelajaran Kooperatif STAD dan Jigsaw


Falsafah yang mendasari model pembelajaran kooperatif  adalah homo homoni socius, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup.
a.    Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan model belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Pembelajaran kooperatif belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran
Menurut Frey, Fisher dan Everlove (2009: 14) yang menyatakan “cooperative learning as an instructional arrangement that allows two to six students the opportunity to work together on a shared task in order to jointly construct their knowledge and understanding of the content”. Maknanya, pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada dua sampai enam orang siswa untuk membentuk kelompok dan bekerja sama menyelesaikan tugas dan bersama-sama membangun pengetahuan dan pemahaman tentang materi pelajaran. Ini berarti model pembelajaran kooperatif memfasilitasi pembentukan kelompok-kelompok dalam kegiatan pembelajaran agar siswa dapat berdiskusi dan berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka untuk memecahkan masalah-masalah yang diberikan dalam proses pembelajaran. Komposisi kelompok dan proses interaksi sangat mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan kelompok cooperative learning (Courtney & Peterson, 2002: 2).
Slavin (2005: 2) merumuskan pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
Cooperative learning refers to a variety of teaching methods in which students work in small groups to help one another learn academic content. In cooperative classrooms, students are expected to help each other, to discuss and argue with each other, to assess each other’s current knowledge and fill in gaps in each other understands. Cooperative work rarely replaces teacher instruction, but rather replaces individual seat work, individual study, and individual drill. When properly organized, students in cooperative groups work with each other to make certain that everyone in the group has mastered the concepts being taught.

Definisi di atas menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif mengacu kepada metode pembelajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk saling membantu mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif siswa diharapkan untuk saling membantu, berdiskusi, berdebat, saling menilai pengetahuan terbaru dan saling mengisi kelemahan dalam pemahaman masing-masing.
Pembelajaran kooperatif adalah para siswa bekerja sama untuk memenuhi sasaran bersama. Siswa dapat menjangkau sasaran pelajaran, jika siswa yang lain di dalam kelompok belajar, juga mempunyai sasaran yang sama, ketercapaian sasaran belajar adalah pengaruh dari hubungan kerjasama mereka dalam belajar (Johnson & Johnson, 2002: 20).
Pembelajaran kooperatif adalah pengelolaan pembelajaran di kelas untuk memperoleh hasil belajar bersama, di dalam mengatur kerjasama di kelas, siswa bekerja pada kelompok kecil yang setiap anggotanya bertanggungjawab pada hasil dan persamaan hak penilaian (Dornyei, 2000: 40).
Arends & Kilcher (2010: 306) menyatakan bahwa “Cooperative learning is a teaching model or strategy that is characterized by cooperative task, goal, and reward structures, and requires students to be actively engaged in discussion, debate, tutoring, and teamwork. Artinya bahwa pembelajaran kooperatif adalah model atau strategi pembelajaran yang mempunyai karakter seperti tugas kelompok, tujuan, dan struktur penghargaan, dan membutuhkan keaktifan siswa dalam diskusi, debat, latihan, dan kerja sama tim.
Joyce, Weil & Calhoun (2004: 30) menyatakan bahwa Cooperative learning procedures facilitate learning across all curriculum areas and ages, improving, self-esteem, social skill and solidarity, and academic learning goals ranging from the acquisition of information and skill through the modes of inquiry of the academic disciplines. Maksudnya bahwa prosedur pembelajaran kooperatif memfasilitasi belajar disegala bidang kurikulum dan usia, meningkatkan, harga diri, ketrampilan sosial dan solidaritas, dan tujuan belajar akademik mulai dari perolehan informasi dan keterampilan melalui cara-cara penyelidikan dari disiplin akademis.
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah proses belajar mengajar yang melibatkan penggunaan kelompok-kelompok kecil yang memungkinkan siswa untuk  bekerja secara bersama-sama di dalamnya guna memaksimalkan pembelajaran mereka sendiri dan pembelajaran satu sama lain (Johnson, Johnson, & Holubec, 2010: 4).
Pembelajaran kooperatif adalah suatu teknik untuk mendukung dan meningkatkan serangkaiaan keputusan pengajaran, tetapi tidak dimaksudkan untuk mengakhiri pelajaran. Meskipun begitu, keuntungan menggunakan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan perhatian dan mendorong kita untuk membaca (Jones & Jones, 2001: 232)
Pada pemebelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerjasama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk dijarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan (Slavin, 1995: 2).
Gillies at. all.  (2008: 97) menjelaskan “Cooperative learning teams were used as a vehicle to get students to engage in academic interactions that would further their understanding of what had been taught (National Reading Panel, 2000)”. Pembelajaran kooperatif digunakan sebagai kendaraan untuk mendapatkan siswa untuk terlibat interaksi dalam bidang akademik yang akan meningkatkan pemahaman tentang apa yang telah diajarkan
Jadi pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mempelajari materi yang diberikan. Dalam kelompok-kelompok kecil, siswa akan lebih banyak terlibat, saling membantu dan bertanggungjawab terhadap penguasaan materi untuk dapat memaksimalkan pencapaian hasil belajar.
b.   Ciri-Ciri  Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif memiliki karakteristik tersendiri jika dibandingkan dengan pembelajaran lain. Kerjasama dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama merupakan ciri khas dalam pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif siswa mempunyai kesempatan untuk mengkostruksikan sendiri setiap materi dan memperdalam pemahaman.
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mempunyai ciri-ciri yaitu: a) saling ketergantungan positif antara anggota kelompok, b) ada pertangungjawaban secara individu, c) anggota kelompok heterogen, d) berbagi kepemimpinan, e) berbagi tanggungjawab, f) menekankan pada tugas dan kebersamaan, g) membentuk keterampilan sosial, h) guru mengamati interaksi belajar peserta didik, dan i) efektifitas belajar tergantung pada kelompok (Johnson & Johnson, 2002: 20-24)
Depdiknas (2005) ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah: a) siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya, b) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, c) bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda, dan d) Penghargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu
Sehubungan dengan itu, Stahl (1999: 10-14) menyebutkan bahwa bahwa terdapat 10 unsur mendasar dalam pembelajaran kooperatif:
1) clear set of specific student learning outcome objectives, 2) common acceptance of the student outcome objectives, 3) positive interdependence, 4) face-to-face interaction, 5) individual accountability, 6) public recognition and rewards for group academic success, 7) heterogeneous groups, 8) positive social interaction behavior  and attitudes, 9) postroup reflection (debriefing) over group process, and 10) sufficient time for learning.

Maksud pendapat di atas bahwa terdapat sepuluh unsur mendasar dalam setiap pembelajaran kooperatif. Kesepuluh unsur tersebut adalah seperangkat tujuan khusus hasil pembelajaran siswa, penerimaan umum terhadap tujuan hasil siswa, interpendensi positif, interaksi tatap muka, pertanggungjawaban individu, pengakuan publik dan penghargaan bagi keberhasilan akademik kelompok, kelompok heterogen, perilaku dan sikap interaksi sosial positif,  renungan pasca kelompok (debriefing) mengenai proses kelompok, dan waktu belajar yang cukup.
Arends (1997: 110) menuliskan pembelajaran kooperatif dapat ditandai oleh fitur-fitur sebagai berikut: a) siswa bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan belajar, b) tim-tim itu berdiri sendiri atas siswa-siswa yang berprestasi rendah, sedang dan tinggi, c) bila mungkin, tim-tim itu terdiri atas campuran ras, budaya, dan gender, dan d) sistem reward-nya berorientasi kelompok maupun individual.
Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif sebagaimana dikemukakan oleh Slavin (2005: 10) yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
a.    Penghargaan kelompok
Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli.
b.    Pertanggungjawaban individu
Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari semua anggota kelompok. Pertanggungjawaban tersebut menitik beratkan pada aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam belajar. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan setiap anggota siap untuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainnya secara mandiri tanpa bantuan teman sekelompoknya.
c.    Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan
Pembelajaran kooperatif menggunakan metode skoring yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa dari yang terdahulu. Dengan menggunakan metode skoring ini setiap siswa baik yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.
Menurut Johnson & Johnson (1987: 6) diantara yang paling mendasar dari ciri-ciri metode pembelajaran kooperatif, ditekankan pada empat unsur-unsur: a) interaksi berhadapan, empat orang siswa pada satu group yang berjumlah sekitar lima kelompok, b) saling ketergantungan positif, siswa bekerjasama untuk mencapai suatu keberhasilan belajar kelompoknya, c) tanggungjawab individu, siswa harus menunjukan bahwa mereka sudah secara individu menguasai materi, dan e) keterampilan kelompok kecil dan hubungan antara pribadi, siswa harus mengajarkan bagian materi dan mendiskusikannya pada teman-teman untuk mencapai keberhasilan kelompoknya.
Urutan langkah-langkah prilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (2008: 21) adalah sebagaimana terlihat pada tabel dibawah ini:
Tebel 4.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif.
Fase
Prilaku Guru
Fase 1:
Mengklarifikasi tujuan dan establishing set
Guru menjelaskan tujuan-tujuan pelajaran dan establishing set.
Fase 2:
Mempresentasikan informasi
Guru mempresentasikan informasi kepada siswa secara verbal atau dengan teks.
Fase 3:
Mengorganisasikan siswa kedalam tim-tim belajar
Guru menjelaskan kepada siswa tata cara membentuk tim-tim belajar dan membantu kelompok untuk melakukan transisi yang efisien.
Fase 4:
Membantu kerja-tim dan belajar
Guru membantu tim-tim belajar selama mereka mengerjakan tugas.
Fase 5:
Menguji berbagai materi
Guru menguji pengetahuan siswa tentang berbagai materi belajar atau kelompok-kelompok mempresentasikan hasil-hasil kerjanya.
Fase 6:
Memberikan penghargaan
Guru memberi penghargaan hasil belajar siswa baik itu hasil belajar individu maupun kelompok.
Terdapat enam fase utama dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran dalam kooperatif dimulai dengan guru menginformasikan tujuan-tujuan dari pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti dengan penyajian informasi, sering dalam bentuk teks bukan verbal. Kemudian dilanjutkan langkah-langkah di mana siswa di bawah bimbingan guru bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang saling bergantung. Fase terakhir dari pembelajaran kooperatif meliputi penyajian produk akhir kelompok atau mengetes apa yang telah dipelajari oleh siswa dan pengenalan kelompok dan usaha-usaha individu.
Dari beberapa ciri-ciri yang disampai diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya pembelajaran kooperatif dapat dilihat dari ciri-ciri: a) belajar bersama-sama dalam kelompok kecil, b) saling memberikan pendapat, c) saling mendengarkan dan menghargai pendapat, d) adanya interaksi tatap muka antara siswa, e) adanya tanggungjawab individu dan kelompok untuk mencapai keberhasilan, dan f) adanya penghargaan kelompok. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif ini akan terlaksana dengan efektif melalui fase-fase pembelajaran kooperatif dimana guru akan bertindak sebagai fasilitator.
c.    Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin (2005: 3) tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Sejalan dengan itu Johnson & Johnson (1987: 2) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan prestasi, merangsang peengembangan teori, peningkatan harga diri dan mempromosikan kegemaran untuk sekolah, tidak hanya kuat dan mudah disesuaikan dengan situasi pelajaran, juga menjadi dasar berkehidupan untuk bekerjasama dengan orang lain pada suatu pekerjaan, memelihara kekeluargaan, dan aktif sebagai bagian dari komunitas atau masyarakat.
Menurut Arends (2008: 5-6) model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan yaitu:
1)      Prestasi akademik.
Belajar kooperatif sangat menguntungkan baik bagi siswa yang memiliki kemampuan tinggi maupun rendah. Siswa berkemampuan tinggi dapat menjadi tutor bagi siswa yang berkemampuan rendah. Dalam proses ini siswa berkemampuan lebih tinggi secara akademis mendapatkan keuntungan, karena pengetahuannya dapat lebih mendalam.
2)      Penerimaan dan keanekaragaman.
Belajar kooperatif menyajikan peluang bagi siswa dari latar belakang dan kondisi sosial, untuk bekerja saling bergantung pada tugas-tugas rutin, dan melalui struktur penghargaan kooperatif dapat belajar menghargai satu sama lain.
3)      Pengembangan keterampilan sosial
Belajar kooperatif bertujuan mengajarkan pada siswa keterampilan-keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Ini adalah keterampilan yang penting yang harus dimiliki dalam suatu masyarakat.
Muijs dan Reynolds (2005: 59) menyatakan “the use of small-group work can foster collaborative skills and is therefore seen an important part of pupils’ development bahwa penggunaan kelompok kecil juga dapat membantu perkembangan keterampilan kolaboratif dan keterampilan sosial, oleh karena itu dianggap sebagai bagian penting dari perkembangan siswa. Siswa juga dapat saling memberikan penopang dengan cara yang sama seperti yang dilakukan guru pada waktu tanya jawab. Pengetahuan yang didapat dalam kelompok cendrung lebih besar dibanding kemampuan yang diperolehnya jika siswa belajar secara perseorangan..
Suherman, E.H., et al. (2003: 259) menyatakan cooperative learning di dalam matematika akan dapat membantu meningkatkan sikap positif siswa dalam matematika. Para siswa secara individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah matematika, sehingga akan mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap matematika (math anxiety) yang banyak dialami para siswa. 
Jadi tujuan pembelajaran kooperatif adalah meningkatkan prestasi akademik, penerimaan terhadap pebedaan individu, dan sekaligus untuk mengembangkan keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif akan dapat melatih para siswa untuk mendengarkan pendapat-pendapat orang lain dan merangkum pendapat atau temuan-temuan dalam bentuk tulisan. Tugas kelompok akan dapat memacu para siswa untuk bekerja sama, saling membantu satu sama lain dan mengintegrasikan pengetahuan-pengetahuan baru dalam pengetahun yang telah dimilikinya. Dalam pembelajaran kooperatif,  kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 sampai 6 orang siswa yang heterogen. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.
d.   Tipe-Tipe Pembelajaran Kooperatif
Menurut Arends (1997:13-16) pembelajaran kooperatif terdiri dari Student-Achievment Divisions (STAD), Jigsaw, Group Investigation (GI), dan pendekatan struktural (Think Pair Share dan Numbered Heads Together). Perbandingan beberapa tipe pembelajaran kooperatif menurut Arends (2008: 18) seperti yang terlihat pada tabel 5 berikut:



Tabel 5.
Perbandingan tipe pembelajaran kooperatif

STAD
JIGSAW
GI
PENDEKATAN STRUKTURAL
Tujuan kognitif
Pengetahuan akademis faktual
Pengetahuan konseptual faktual dan akademis
Pengetahuan konseptual akademis dan keterampilan menyelidiki
Pengetahuan akademis factual
Tujuan social
Kerja kelompok dan kerja sama
Kerja kelompok dan kerja sama
Kerja sama dalam kelompok kompleks
Keterampilan kelompok dan social
Struktur tim
Tim-tim belajar heretrogen beranggota 4-5 orang
Tim-tim belajar heterogen beranggota 4-5 orang; menggunakan tim-tim asal dan tim-tim ahli
Kelompok belajar beranggota lima sampai enam orang,mungkin homogen
Bervariasi pasangan,trio,kelompok beranggota 4-6 orang
Pemilihan topik pelajaran
Biasanya guru
Biasanya guru
Guru dan/atau siswa
Biasanya guru
Tugas utama
Siswa mungkin menggunakan worksheets dan saling membantu dalam menguasai materi belajar
Siswa menyelidiki berbagai materi di kelompok ahli; membantu anggota-anggota di kelompok asal untuk mempelajari berbagai materi
Siswa menyelesaikan penyelidikan yang kompleks
Siswa mengerjakan tugas yang diberikan-sosial dan kognitif
asesmen
Tes mingguan
Bervariasi-dapat berupa tes mingguan
Proyek dan laporan yang sudah dibuat; dapat berbentuk tes esai
Bervariasi
rekognisi
Newsletter dan publikasi lain
Newsletter dan publikasi lain
Presentasi lisan dan tertulis
Bervariasi

2.        Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin, dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan paling mudah diterapkan oleh guru yang baru menggunakan model pembelajaran kooperatif. Guru yang menggunakan STAD, menyajikan informasi akademik baru kapada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Menurut Newman dan Thompson (Armstrong & Scott, 1998: 2) bahwa STAD adalah tehnik kooperatif learning yang paling berhasil untuk meningkatkan prestasi akademik siswa.
Menurut Arends (1997: 119) “teacher employing STAD, also referred to as student team learning, present new academic information to student each week using verbal presentation or text” guru yang menggunakan STAD menyajikan informasi akademis baru kepada siswa setiap minggu atau secara reguler, baik melalui presentasi verbal atau teks. Burden & Byrd (1999: 100) kelompok STAD memuat 4 anggota yang heterogen dari  tingkat prestasi,  jenis kelamin, dan suku.
Borich (2000: 388) “In Student Team-Achievement Division (STAD), the teacher assigns students to four-or-five-members. Each team is as heterogeneous as possible to represent the composition of the enteri class (boys/girls, higher achieving/lower achieving, etc.). makananya dalam Student Team-Achievement Division (STAD), guru menetapkan siswa dalam tim yang terdiri dari empat sampai lima orang anggota. Komposisi setiap tim dalam kelas harus heterogen yang terdiri dari (laki-laki/perempuan, prestasi tinngi/prestasi rendah, dan lain-lain).
Menurut Arends & Kilcher (2010: 317-318) bahwa pembelajaran STAD,
It involves students working together in groups and groups that compete with each other. This approach has been quite thoroughly researched and been shown to be effective for helping students master declarative knowledge in the form of basic facts and conceptual information. Research (Slavin, 1994) on this approach has also revealed that it can lead to positive effects on the relationships among racial and ethnic groups. STAD involves organizing students into semi-permanent teams (usually together for about six weeks) and using an improvement point scoring system.

Maknanya bahwa STAD melibatkan siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok dan kelompok yang saling bersaing. Pendekatan ini telah cukup diteliti secara menyeluruh dan telah terbukti efektif untuk membantu siswa menguasai pengetahuan deklaratif berupa fakta-fakta dan informasi dasar konseptual. Penelitian (Slavin, 1994) tentang pendekatan ini juga mengungkapkan bahwa hal itu dapat menyebabkan efek positif pada hubungan antara kelompok-kelompok ras dan etnis. STAD melibatkan pengorganisasian siswa menjadi tim semi-permanen (biasanya bersama selama sekitar enam minggu) dan menggunakan sistem perbaikan penilaian.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Arends, (1997: 119) adalah sebagai berikut: 
a.    Guru yang menggunakan STAD mengenalkan informasi akademis baru kepada siswa setiap minggu atau secara reguler, baik melalui presentasi verbal atau teks.

b.    Siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok/tim belajar dengan wakil-wakil dari gender, ras/etnis, dan dengan prestasi rendah, rata-rata dan tinggi. Anggota-anggota tim menggunaka worksheets atau alat belajar lain untuk menguasai berbagai materi akademis dan kemudian saling membantu untuk mempelajari berbagai materi melalui tutoring, saling memberikan kuis atau melaksanakan diskusi tim
Tim terdiri dari lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kemampuan akademik dan jenis kelamin. Fungsi utama dari tim ini adalah  memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar. Untuk mendukung siswa Belajar dalam tim pada setiap pertemuan menggunakan Lembar kerja Siswa (LKS) yang telah disusun sebanyak lima kegiatan, setiap tim mendapat LKS yang sama untuk diselesaikan. Pada saat diskusi tim berlangsung guru mengamati dan membimbing kelompok yang mengalami kesulitan.
c.    Secara individual, siswa diberi kuis mingguan atau dua mingguan tentang berbagai materi akademis.
Setelah satu atau dua kali pertemuan, siswa akan mengerjakan kuis individual. Para siswa tidak diperbolehkan untuk saling membantu dalam mengerjakan kuis. Sehingga, tiap siswa bertanggung jawab secara individu untuk memahami materinya.
d.   Kuis-kuis tersebut diskor dan masing-masing individu diberi “skor kemajuan”. Skor kemajuan bukan didasarkan pada absolut siswa, tetapi pada seberapa banyak skor itu bertambah dari rata-rata skor sebelumnya.   
 Setelah sekitar satu atau dua kali pertemuan setelah guru memberikan presentasi kelas, para siswa akan mengerjakan kuis individual. Para siswa tidak tidak diperbolehkan untuk saling membantu dalam mengerjakan kuis. Sehingga, tiap siswa bertanggung jawab secara individu untuk memahami materinya.
Skor kemajuan individual dapat dicapai apabila mereka bekerja lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik dari sebelumnya. Tiap siswa dapat memberikan konstribusi poin yang maksimal kepada timnya dalam sistem skor ini, tetapi tidak ada siswa yang dapat melakukannya tanpa memberikan usaha maksimal. Tiap siswa diberi skor awal, selanjutnya akan mengumpulkan poin untuk tim mereka berdasarkan tingkat kenaikan skor kuis mereka dibandingkan dengan skor awal.
Skor kelompok dihitung didasarkan pada skor peningkatan anggota kelompok. Keberhasilan kelompok dapat dievaluasi dari kumpulan poin peningkatan tiap kelompok yang disumbangkan oleh anggotanya. Poin peningkatan dihitung berdasarkan hasil kuis. Kuis diberikan kepada siswa dan dikerjakan secara individual setelah mereka menyelesaikan tugas kelompok. Pemberian kuis harus dengan alokasi waktu yang cukup bagi siswa untuk dapat menyelesaikannya.
Sebagai motivasi, berdasarkan hasil kuis siswa dan perhitungan peningkatan poin kelompok, wujud penghargaan bagi kelompok dapat diberikan dengan berbagai bentuk, seperti sertifikat, laporan berkala kelas atau buletin yang dipajang. Isi semua bentuk tersebut menguraikan tentang prestasi kelompok. Prestasi tersebut dapat diketahui dari hasil perhitungan skor peningkatan kelompok berdasarkan kuis terdahulu.
 Perhitungan skor peningkatan, dan kriteria penghargaan kelompok menggunakan kriteria  seperti pada Tabel 6 berikut:


Tabel 6.
Perhitungan nilai peningkatan dalam pembelajaran kooperatif
Skor Tes Akhit
Nilai Peningkatan
Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar
1 poin sampai dengan 10 poin di bawah skor dasar
Skor awal hingga 10 poin di atas skor dasar
Lebih dari 10 poin di atas skor dasar
Nilai sempurna
5
10
20
30
30

Kriteria penghargaan kelompok dalam pembelajaran kooperatif terdiri dari tiga tingkatan penghargaan berdasarkan skor rata-rata kelompok atau tim seperti terliha pada Tebel 7 berikut

Tabel 7.
Kriteria penghargaan dalam pembelajaran kooperatif
Kriteria (rata-rata tim)
Penghargaan
15
20
25
Baik
Hebat
Super

Berdasarkan tabel 6 di atas seluruh tim dapat memperoleh penghargaan tersebut, di dalam sebuah kelas dapat terjadi lebih dari atau tim mendapat penghargaan tim super, tim hebat dan tim baik asalkan kriteria di atas terpenuhi.
Berdasarkan pendapat di atas, yang dimaksud dengan Student Team Achievement Division (STAD) dalam penelitian ini adalah guru membagai siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang dan terdiri dari laki-laki dan perempuan yang berasal dari siswa memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah  dengan langkah-langkah: Presentasi kelas, Belajar dalam tim, Kuis, Skor kemajuan individu, dan Penghargaan kelompok.
3.        Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Model  pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas pada tahun 1997, dan kemudian diadaptasi oleh Robert E Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins
Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Menurut Arends & Kilcher (2010: 316) bahwa pembelajaran Jigsaw,
Students start out in heterogeneous home or base teams comprised of four or five members. Members number off and then move to expert groups. Each expert group learns a different part or aspect of the assigned topic. They read and discuss learning materials provided by the teacher and help each other learn about their assigned topic. They also decide how best to present the material to others when their home teams reconvene. Each member of the team teaches their part to other home team members. Following home team meetings and discussions, students are tested independently on the material.

Maknanya adalah siswa mulai di kelompok heterogen atau kelompok asal yang terdiri dari empat atau lima anggota. Nomor anggota yang sama dari tiap kelompok kemudian pindah ke kelompok ahli. Setiap kelompok ahli belajar bagian yang berbeda atau aspek dari topik yang ditugaskan. Mereka membaca dan mendiskusikan materi pembelajaran yang diberikan oleh guru dan saling membantu belajar tentang topik yang ditugaskan kepada mereka. Mereka juga memutuskan cara terbaik untuk menyajikan materi kepada orang lain ketika tim berkumpul kembali ke kelompok asal mereka. Setiap anggota kelompok mengajarkan bagian mereka kepada anggota kelompok asal lainnya. Setelah pertemuan asal dan diskusi, siswa diuji secara independen dengan materi tersebut.
Arends (1997: 120) menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dimana siswa-siswanya ditempatkan dalam tim yang heterogen yang beranggotakan lima sampai enam orang dan materi disajikan kepada siswa dalam bentuk teks, dan setiap siswa bertanggungjawab untuk mempelajari salah satu materi yang kemudian para anggota dari tim yang berbeda bertemu untuk belajar dan saling membantu dalam membicarakan materi yang sama (kelompok ahli), kelompok ahli tersebut kembali ke tim asalnya. Arends mengilustrasikan hubungan antara tim asal dan tim ahli pada gambar 2.
Kelompok Asal
http://2.bp.blogspot.com/_Lo51TCX5NxU/TI8mHR9XybI/AAAAAAAAEk8/DnsSq_D1-Ec/s320/kelompok-jigsaw1.jpg







Kelompok ahli

Gambar 2.
Hubungan tim asal dan tim ahli dalam kooperatif tipe Jigsaw
 
Robert E Slavin (2005: 122) menyatakan Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menjelaskan bahwa:
In Jigsaw II, students work in heterogeneous teams, The students are assigned chapters or other units to read, and are given “expert sheets” that contain different topics for each team member to focus on when reading. When every one has finished reading, students from different teams with the same topic meet in an “expert group” to discuss their topic for about thirty minutes. The experts then return to their teams and take turns teaching their teammates about their topic. Finally students take assessments that cover all the topics, and the quiz scores become team scores.

Dalam jigsaw II menjelaskan bahwa para siswa bekerja dalam tim yang heterogen. Para siswa tersebut diberikan tugas untuk membaca beberapa bab atau unit dan diberikan lembar ahli yang terdiri atas topik-topik yang berbeda yang harus menjadi fokus perhatian masing-masing anggota tim saat mereka membaca. Setelah semua anak selesai membaca, siswa-siswa dari tim yang berbeda yang mempunyai fokus topik yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan topik mereka sekitar 30 menit. Para ahli tersebut kemudian kembali kepada tim mereka dan secara bergantian mengajari teman satu timnya mengenai topik mereka. Yang terakhir adalah para siswa menerima penilaian yang mencakup seluruh topik, dan skor kuis akan menjadi skor tim. Penskoran pada tipe jigsaw sama dengan penskoran pada tipe STAD. Menurut Borich (2007: 389) menyatakan:
“In the cooperative learning activity called jigsaw II, you assign students to 4 to 6 member teams to work on an academic task broken into several subtask, depending on the number of group. you assign students to teams and then assign a unique responsibility to teach team member”.

Dalam kegiatan pembelajaran kooperatif yang disebut jigsaw II, guru menetapkan siswa untuk 4-6 anggota tim untuk bekerja pada tugas akademik dibagi menjadi beberapa subtask, tergantung pada jumlah kelompok. Guru menetapkan siswa untuk tim dan kemudian menetapkan tanggung jawab yang unik untuk mengajar anggota tim.
Dijelaskan juga dalam Persky & Pollack (2009: 1) bahwa, In the jigsaw approach, which is framed around a given topic, learners are divided into small groups with each group member responsible for learning a part of the overall ‘‘puzzle.’’ Students then learn about their part of the puzzle by meeting with other students who have identical parts of the puzzle”. Dalam pendekatan jigsaw, yang dibingkai sekitar suatu topik tertentu, peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dengan masing-masing anggota kelompok yang bertanggung jawab untuk mempelajari bagian dari keseluruhan teka-teki''. Siswa kemudian belajar tentang bagian mereka dari teka-teki dengan bertemu dengan siswa yang lain yang memiliki bagian-bagian teka-teki yang lain. Lebih lanjut diuraikan, “The jigsaw approach was used to provide students with individual accountability as they had to teach other members of their group what they learned while researching a problem”. Pendekatan jigsaw digunakan untuk memberikan para siswa dengan akuntabilitas individu karena mereka harus mengajar anggota lain dari kelompok mereka apa yang mereka pelajari saat meneliti masalah
Slavin (2006: 258) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw bahwa : “a cooperative learning model in which students are assigned to six member teams to work on academic material that has been broken down into sections for each member”. Model pembelajaran kooperatif dimana siswa ditugaskan untuk enam anggota tim untuk bekerja pada materi akademik yang telah dipecah menjadi beberapa bagian untuk setiap anggota. Dalam kegiatan pembelajaran kooperatif yang disebut jigsaw II, guru menetapkan siswa untuk 4 6 anggota tim untuk bekerja pada tugas akademik dibagi menjadi beberapa subtask, tergantung pada jumlah kelompok. Guru menetapkan siswa untuk tim dan kemudian menetapkan tanggung jawab yang unik untuk mengajar anggota tim.
Teknik Jigsaw terdiri dari langkah-langkah dasar berikut (Weidman & Bishop, 2009: 52-53): Setiap siswa dalam sebuah kelompok "rumah" menerima subtopik; Subtopik ahli dari masing-masing kelompok bertemu dalam grup "ahli" untuk bekerja sama dalam subtopik mereka; Para ahli kembali ke kelompok asal mereka untuk mengajarkan subtopik mereka kepada anggota lain; Setiap siswa mengalami penilaian peserta pada semua subtopik
Menurut Slavin (1995: 122) bahwa jigsaw II terdiri atas siklus regular dari kegiatan-kegiatan pengajaran:
a.       Membaca
Para siswa menerima topic ahli dan membaca materi yang diminta untuk menemukan informasi.
b.      Diskusi kelompok ahli
Para siswa dengan keahlian yang sama bertemu untuk mendiskusikannya dalam kelompok-kelompok ahli.
Kelompok ahli terdiri dari wakil-wakil dari kelompok asal. Untuk mendukung siswa diskusi dalam kelompok ahli pada setiap pertemuan menggunakan Lembar kerja Siswa (LKS) yang telah disusun sebanyak lima kegiatan tim ahli, setiap tim ahli mendapat kegiatan tim ahli yang berbeda untuk diselesaikan. Pada saat diskusi tim ahli berlangsung guru mengamati dan membimbing kelompok yang mengalami kesulitan.  Setelah menyelesaikan diskusi pada kelompok ahli, setiap anggota kelompok ahli kembali kekelompok asal untuk menjelaskan pada anggota kelompoknya.
c.       Laporan tim
Para tim kembali kekelompok mereka masing-masing untuk mengajari topik-topik mereka kepada teman satu timnya.
d.      Tes
Para siswa mengerjakan kuis-kuis individual yang mencakup semua topik.
e.       Penghargaan kelompok
Skor tim dihitung seperti dalam STAD
Berdasarkan pendapat diatas, yang dimaksud dengan Jigsaw dalam pembelajarannya menggunakan angkah-langkah sebagai berikut:
a.     Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 5 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.
b.    Tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal.
c.     Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
d.    Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
e.     Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.
Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai,  dan Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.

Daaftar Pustaka.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar